Selasa, 02 Juni 2020

Sistem - Metode Perbaikan Tanah


Tanah adalah bagian yang penting ketika kita akan mendirikan suatu bangunan atau konstruksi, MENGAPA? alasannya tanah yaitu kawasan dari fondasi bangunan itu berpijak. Jika tanah yang digunakan untuk mendirikan bangunan itu tidak memiliki daya dukung yang tinggi atau tanah yang labil maka sekuat apapun konstruksi yang kita bangkit, pasti tidak akan memiliki kegunaan karena akan hancur ketika tanah mengalami pergeseran yang disebabkan oleh gempa ataupun pergeseran bentuk dan sifat dari tanah itu sendiri. 
Maka sangat penting bagi kita, untuk mengenali metode - tata cara apa saja yang umum dipakai dalam bidang sipil terutama untuk memperbaiki tanah yang labil menjadi tanah yang memiliki daya dukung tinggi, menyanggupi spesifikasi teknik, aman dan pantas untuk didirikan suatu bangunan. Secara garis besar, perbaikan tanah dibagi menjadi dua metode ialah : 1) Perbaikan tanah secara tradisional dan ke 2) Perbaikan tanah dengan cara yang mekanis atau maju. Mari kita bahas kawan - kawan sekalian. 

Metode Perbaikan Tanah Secara Tradisional yaitu dengan cara memperlihatkan pupuk organik dalam peningkatan kesuburan tanah, melalui pembentukan agregat yang lebih stabil, aerasi dan drainase tanah yang baik. Infiltrasi air hujan ke dalam tanah dapat berjalan sangat bagus, sehingga run-off berkurang yang pada gilirannya juga akan mengurangi pengikisan. Bahan organik tanah juga memajukan kesanggupan tanah menahan air (water holding capcity), sehingga jumlah air tersedia bagi tanaman juga meningkat.
Pengolahan tanah secara tradisional berhubungan juga dengan kegiatan lain mirip penyebaran benih (penanaman bibit), pemberian tumbuhan dan panen. Berkaitan dengan sejarah pembuatan tanah maka pertumbuhan dalam tujuan serta metode pembuatan tanahnya dibarengi pula dengan kemajuan disain perlengkapan baik dari segi bahan maupun alatnya (misalnya : alat bajak sawah).

Perbaikan Tanah yang Maju atau secara mekanis disebut juga perbaikan tanah dengan enersi. Umumnya dijalankan terhadap tanah timbunan. Jenis tanah mampu berupa tanah berbutir halus maupun berbutir kasar. Pemadatan mampu dilakukan dengan cara :
a. Gilasan
b. Tumbukan
c. Getaran
d. Kombinasi a-c dan b-c
Energi gilasan, tumbukan dan getaran berperan mendorong udara dan air tanah dari rongga atau pori-pori tanah, sekaligus memampatkan rongga menjadi kian kecil, proses memampatkan tanah juga mengganti susunan butiran menjadi lebih kompak. Cara gilasan dan tumbukan sangat sesuai untuk tanah kohesif (berbutir halus), sedangkan cara gilasan dan getaran cocok untuk tanah non-kohesif (berbutir bergairah). Alat pemadat kombinasi gilasan dan getaran adalah Smoot wheel roller, cocok untuk tanah berbutri bergairah. Sedangkan Pneumatic rubber tired roller cocok untuk tanah berbutir kasar maupun halus.
Berikut ini ialah usaha - perjuangan yang dikerjakan dalam perbaikan tanah, antara lain adalah : 
1. Beton Pra cetak 
Sumber : Google.com
Beton pra cetak merupakan materi beton yang sudah dibentuk di pabrik dengan bentuk sesuai cetakan, kemudian beton yang dicetak tersebut dimuat dan dipasang ke kawasan lokasi konstruksi bangunan. Sistem beton pracetak yaitu sistem konstruksi yang mampu menjawab kebutuhan di masa ini, selain itu juga mudah dan bermanfaatnya juga memiliki efek pada lingkungan serta mampu menghemat biaya konstruksi bangunan.

2. Serat Buatan atau Geotekstil

Sumber : Google.com
Geotekstil yaitu lembaran sintesis yang tipis, fleksibel, permeable yang dipakai untuk stabilisasi dan perbaikan tanah dikaitkan dengan pekerjaan teknik sipil. Pemanfaatan geotekstil ialah cara modern dalam usaha untuk perkuatan tanah lunak. Beberapa fungsi dari geotekstil ialah :
a). Untuk memperkuat tanah lunak.
b). Untuk konstruksi teknik sipil yang memiliki umur planning cukup lama dan mendukung beban yang besar seperti jalan rel dan dinding penahan tanah.
c). Sebagai lapangan pemisah, penyaring drainase dan sebagai lapisan pelindung.
Jenis geotekstil dibagi menjadi 2 adalah Woven Geotextile (Anyaman) dan Non-Woven Geotextile (Nir-Anyam). Pengunaan Woven Geotextile akan memberikan hasil yang lebih baik sebab arah gaya dapat diubahsuaikan dengan arah serat, sehingga deformasi mampu dikelola dengan baik. Sedangkan pada Non-Woven Geotextile arah serat dalam struktur geotekstil tidak terarah, sehingga apabila dibebani maka akan terjadi deformasi yang sungguh besar dan susah diatur.

3. Menggunakan Alat Berat

Sumber : Google.com
Alat Berat atau Heavy Equipment yaitu alat bantu yang digunakan oleh manusia untuk melaksanakan pekerjaan berat atau sukar untuk dilakukan dengan tenaga manusia / menolong insan dalam menjalankan pekerjaan yang berat. Di Indonesia sendiri, kita banyak mengenal berbagai tipe alat berat, namun intinya tipe alat berat dibagi menjadi beberapa bab yaitu :
a). Loading equipment ialah alat yang dipakai untuk menggali, mengangkat material dari sumbernya ke unit pembawa material, yang jenisnya antara lain ialah hydraulic shovel, hydraulic excavator, wheel type loader dan track type loader.
b). Heavy support equipment yakni spare part alat berat atau alat berat yang dipakai selaku fasilitas penunjang disekitar loading area, dumping area maupun area perjalanan dari loading hingga dumping area. Jenisnya yakni track type tracktor / dozer, motor grader, wheel type tracktor / wheel dozer dan asphalt compactor.
c). Lifting equipment yakni alat berat yang digunakan selaku alat pengangkat dengan aneka macam jenis berat beban optimal yang mampu diangkat oleh alat tersebut. Jenisnya : telescopic handler, pipelayer dan forklift.
d). Hauling equipment yaitu alat berat yang dipakai selaku alat pemindah material dari loading area. Jenisnya : off hihway truck, articulated dump truck dan scraper.
e). Drilling machine ialah spare part alat berat atau alat berat yang digunakan selaku pengebor untuk membuat lubang yang mau digunakan sebagai kawasan meletakkan materi peledak untuk diledakkan. Dalam system pengeboran ini lazimnya sebuah perusahaan blasting menggunakan air compressor yang dirakit dengan attachment bor untuk pelaksanaan aktivitas drilling.

4. Penggunaan Bahan Kimia

Sumber : Google.com

Sumber : Google.com

Usaha perbaikan tanah secara kimiawi dilakukan dengan cara mencampur tanah orisinil dengan materi stabilitator yang dipakai mesti memenuhi keriteria seperti mampu tercampur dengan tanah asli, mampu dipadatkan dengan baik, mudah dilaksanakan dan mudah didapat, serta ekonomis.
Ada beberapa materi stabilitator tanah antara lain adalah stabilisasi tanah dengan semen yang dapat diartikan selaku pencampuran antara tanah yang telah dihancurkan, semen dan air. Kemudian dipadakan sehingga menciptakan suatu material baru yang disebut Tanah-Semen (Soil Cement), dimana kekuatan karakteristik deformasi, daya tahan kepada air, cuaca dan sebagainya dapat diubahsuaikan dengan kebutuhan untuk pekerjaan jalan, pondasi bangunan dan jalan, pemikiran sungai dan lain-lain.

5. Penyedotan atau Dewatering.
Sumber : Google.com

Dewatering yakni proses penurunan wajah air tanah selama konstruksi berjalan, selain itu juga diperuntukkan pencegahan kelongsoran akibat adanya fatwa tanah pada galian atau bisa dipaparkan sebagai proses pemisahan antara cairan dengan padatan. Proses dewatering tidak dapat dikerjakan sekaligus, tetapi harus secara sedikit demi sedikit, yaitu dengan jalan :
a.  Thickening ialah proses pemisahan antara padatan dengan cairan yang mendasarkan atas kecepatan mengendap partikel atau mineral tersebut dalam sebuah pulp sehingga solid factor yang diraih sama dengan satu (% solid = 50%).
b.  Filtrasi yakni proses pemisahan antara padatan dengan cairan jalan menyaring (dengan filter) sehingga didapatkan solid factor sama dengan empat (% solid = 100%).
c.  Drying yakni proses penghilangan air dari padatan dengan jalan pemanasan, sehingga padatan itu benar-benarbebas dari cairan atau kering (% solid = 100%).

Tujuan diadakannya proses dewatering antara lain ialah untuk :
-  Mencegah rembesan.
-  Memperbaiki kestabilan tanah.
-  Mencegah pengembungan tanah.
-  Memperbaiki karakteristik dan kompaksi tanah utamanya dasar.
-  Pengeringan lubang galian.
-  Mengurangi tekanan lateral.

Selain itu, terdapat aspek penentu dalam pemilihan dewatering antara lain :
-  Sifat tanah.
-  Ait tanah.
-  Ukuran dalam galian.
-  Daya dukung tanah.
-  Kedalam dan tipe pondasi.
-  Desain dan fungsi dari struktur.
-  Rencana pekerjaan.
Keuntungan dari proses dewatering ini adalah muka air tanah menurun, longsor berkurang, lereng lebih curam dan tekanan tanah menyusut. Sedangkan kerugiannya ialah mata air sekeliling turun dan permukaan tanah turun.






Sumber https://www.ruang-sipil.com/


EmoticonEmoticon