![]() |
| Sumber : Google.com |
Berbicara ihwal konstruksi pasti tidak terlepas juga dari yang namanya kegagalan konstruksi. Misalnya dewasa ini di Indonesia, kita sering menyaksikan kegagalan konstruksi dikala pelaksanaan, ataupun kegagalan konstruksi akhir pengaruh aspek eksternal mirip alam.
Kegagalan konstruksi sendiri secara lazim mampu diartikan sebagai kegagalan fisik suatu bangunan atau infrastruktur, tetapi jika dikaji lebih lanjut maka kegagalan konstruksi tidak hanya menurut pada keadaan fisik sebuah bangunan tetapi dapat pula dilihat dari faktor fungsi dan keuntungannya bagi lingkungan di sekitarnya. Contohnya kita sering melihat jenis produk konstruksi yang secara fisik memenuhi tolok ukur penyusunan rencana dan pelaksanaan tetapi konstruksi tersebut tidak difungsikan sesuai dengan penyusunan rencana permulaan bangunan tersebut dan alhasil eksistensi konstruksi tersebut justru malah mengganggu lingkungan sekitarnya, hal ini dapat dikategorikan selaku kegagalan proyek.
Maka secara lazim mampu kita simpulkan bahwa kegagalan konstruksi ialah bentuk penyimpangan yang muncul akhir ketidaksesuaian terhadap spesifikasi, faedah, fungsi serta akad dalam kesepakatan yang dibuat baik dari pihak pengguna jasa, konsultan maupun pelaksana konstruksi.
Faktor - aspek yang menjadi penyebab kegagalan konstruksi sangatlah bermacam-macam. Namun secara garis besar, cuma ada 2 hal yang menjadi penyebab kegagalan konstruksi yaitu, yang pertama yaitu faktor internal dan yang kedua yakni faktor eksternal. Berikut yakni 7 hal penyebab kegagalan proyek konstruksi diantaranya adalah :
1. Kesalahan Perencanaan
Kesalahan penyusunan rencana dan perancangan ialah faktor yang sangat penting dan vital dimana sangat kuat kepada desain konstruksi yang akan dikerjakan dilapangan, jika dalam aspek penyusunan rencana dan perancangan pihak konsultan salah memperhitungkan atau menganalisis maka konsekuensi dan efek yang mampu ditimbulkan ke depan akan sangat signifikan kuat terhadap kegagalan fisik bangunan. Perencanaan dalam hal ini mampu berupa penyusunan rencana dan perancangan rancangan fisik/ukuran dan keselamatan, penyusunan rencana anggaran, penyusunan rencana mutu, perencanaan waktu pelaksanaan, perencanaan manfaat/benefit, perencanaan fungsi dan perencanaan yang mendukung kepada produk konstruksi yang mau dihasilkan.
2. Kesalahan Studi Kelayakan Bangunan
Kesalahan dalam tahapan studi kelayakan menunjukkan efek yang cukup luas ke beberapa aspek tidak cuma yang bersifat fisik namun non fisik juga. Dalam proses pembuatan dan analisis studi kelayakan tentunya perlu memperhatikan faktor-faktor secara menyeluruh yang akan di proyeksikan ke depan baik pada tahap pelaksanaan konstruksi maupun pasca konstruksi dimana mempunyai pengaruh pribadi terhadap kawasan di sekitarnya baik dari sisi pemanfaatan, perawatan, sosial, ekonomi, lingkungan dan peraturan yang berlaku. Jadi pada tahap ini jika tidak dikerjakan dengan cermat khusunya bagi proyek yang berskala besar maka akan memberikan dampak yang signifikan dalam tahapan ke depannya yang tentunya merupakan salah satu aspek penyebab terjadinya kegagalan sebuah konstruksi.
3. Kesalahan Saat Pelaksanaan
Kesalahan pelaksanaan ialah tindak lanjut dari proses perencanaan kontruksi, dimana dalam tahap pelaksanaan juga memegang peranan penting kepada kegagalan kontruksi yang pastinya lebih berorientasi terhadap pihak pelaksana proyek/kontraktor. Dalam tahap pelaksanaan faktor-faktor tersebut antara lain mampu dari segi sistem pelaksanaan yang salah, kualitas material yang tidak sesuai spesifikasi dalam perjanjian dan perencanaan, penggunaan tenaga kerja yang tidak andal/terlatih, penggunaan perlengkapan yang tidak efektif, kurangnya pengawasan dan administrasi proyek yang jelek. Tentunya jika aspek tersebut dapat lebih diamati maka tingkat risiko kegagalan konstruksi dari faktor pelaksanaan dapat dihemat.
4. Kesalahan Operasional Konstruksi
Dalam hal ini lebih berorientasi terhadap pihak pemilik proyek konstruksi dalam tahap penggunaan dan operasional dari produk konstruksi tersebut, dimana kalau pihak pemilik melakukan kesalahan dalam hal merubah dari fungsi mulanya maka dapat berpotensi menjadikan terjadinya kegagalan konstruksi, misalnya bangunan yang awalnya diperuntukkan untuk gedung sekolah diubah fungsi menjadi gudang atau menambah jumlah tingkat bangunan yang dari penyusunan rencana awalnya cuma didedikasikan untuk satu lantai atau pembangunan gedung yang sehabis terealisasi tidak dipakai sama sekali/ganggur, serta pergeseran-pergeseran fungsi lainnya yang menyimpang dari fungsi planning awalnya juga potensial kepada terjadinya kegagalan bangunan baik bersifat fisik maupun nonfisik.
5. Perawatan Konstruksi
Perawatan bangunan juga berperan penting kepada kelangsungan umur dan mutu produk konstruksi, tentunya dalam hal ini diperluhkan metode manajemen perawatan bangunan. Jika perawatan tidak dijalankan secara rutin dan berkala maka mampu juga berpotensi terhadap meningkatnya risiko kegagalan bangunan. Inspeksi perawatan bangunan berfungsi untuk mendeteksi secara dini kerusakan dari fisik bangunan/infrastruktur sehingga langkah repair/perbaikan dapat dikerjakan semenjak dini sehingga menghindari tingkat kerusakan yang lebih jelek serta pembengkakan biaya perawatan.
6. Kegagalan Akibat Bencana
Faktor ini ialah aspek diluar dugaan dan kemampuan manusia yang merepotkan untuk diprediksi secara sempurna (Act of God), aspek tragedi ialah aspek yang sungguh fatal kepada kegagalan konstruksi. Bencana dalam hal ini dapat berupa bencana alam maupun balasan faktor internal/kelalaian manusia mirip peristiwa gempa/Earth Quake, flood/banjir, Tsunami, tanah longsor/land slide, Topan, kebakaran, ledakan, Amblas, dsb. Oleh alasannya adalah itu untuk meminimalkan tingkat risiko akhir aspek ini maka banyak pihak pemilik produk konstruksi mengalihkan risiko tersebut ke pihak ke-3 mirip asuransi.
7. Kegagalan Akibat Umur Bangunan
Umur bangunan juga berperan dan besar lengan berkuasa terhadap kegagalan konstruksi bangunan dimana kalau umur sebuah produk bangunan melebihi dari umur yang dijadwalkan maka mampu berpotensi menyebabkan kegagalan bangunan, hal ini diakibatkan sebab tingkat kekuatan bangunan mengalami penurunan selama umurnya serta kecapekan/fatique yang terus-menerus selama umur bangunan tersebut.
![]() |
| Sumber : Google.com |


EmoticonEmoticon